PASUKAN GILA
Karya :
Andi Sahludin
Adaptasi : aan
1.
PEMBUKAAN (introduksi)
SELURUH PEMAIN MEMPERKENALKAN NAMA DAN PERAN SATU
PERSATU (secara bergiliran atau satu persatu), KEMUDIAN BERNYANYI BERSAMA
Lagu Pembuka : Maju tak gentar, membela yang benar
Maju tak serentak, hak kita ditendang
Bergerak, …………..bergerak 2 X
Nasib memang nasib . . .
Mau
apa toh memang begini
Jadi
tentara memang gila kerjanya
Gila
. . . memang gila . . .
Keluh
dan protes tak ada kamusnya
Serdadu
memang dicongok hidungnya
Jadi
. . . jangan gila
Bila
tak mau disebut
Pasukaaaaaaan
. . . giiiiiiiilaaaaaaaa . . .
2.
UPACARA
/ INSPEKSI PASUKAN
SIRENE BERBUNYI PANJANG MERAUNG RAUNG, SELURUH
PASUKAN BERKUMPUL MENJADI SATU FORMASI MILITER YANG KAKU.
MASING-MASING DIPERSIAPKAN
INSPEKTUR UPACARA MEMASUKI LAPANGAN
Komandan : Kepada inspektur upacara, beri hormat
(SEMUA MEMBERI HORMAT)
Komandan : Pengibaran kain berwarna
PASUKAN PENGIBAR KAIN MENAIKKAN YANG
DIMAKSUD
Komandan : Kepada kain berwarna
Hormat senjata. . . . . gerak
(SEMUA MEMBERI HORMAT SENJATA)
Tegak senjata. . . . . . gerak
Ajudan : Amanat inspektur upacara
Inspektur :
(DENGAN DIPAYUNGI DUA ORANG AJUDAN)
Salam serdadu yang paling dalemmm. . . jadi begini, kita tau Negara diujung
perpecahan. Kita perketat keamanan bagian barat. Negara dalam bahaya. . . . .
tidak banyak kata, saya tau bahwa kalian sudah mendapat tugas untuk mengamankan
daerah-daerah yang memang susah diajak kompromi. Tembak ditempat, jangan
takut,memang untuk itulah kita tercipta. . .
akhir kata “Selamat Berjuang”
(BERSEMANGAT) sekali berperang. . . naik pangkat belakangan.
Seluruh pasukan : (BERSEMANGAT) Sekali berperang naik
pangkat belakangan
DENGAN DIPAYUNGI DUA AJUDAN
INSPEKTUR MEMERIKSA PASUKAN.
PEMERIKSAAN BERLANGSUNG DALAM
SUASANA YANG RIANG SEPERTI
PERISTIWA YANG TERJADI PADA SETIAP PERPISAHAN YANG
SERINGTERJADI DIANTARA SEPASANG KEKASIH.SESEKALI TERDENGAR ISAK TANGIS.
INSPEKTUR DAN AJUDAN KELUAR.
SELURUH PASUKAN DIISTIRAHATKAN.
Komandan : Para
tentara yang terhormat. Sesuai dengan apa yang telah
dikomandankan oleh markas besar,kita akan bertugas didaerah
coklat. Kita akan diangkut pakai Hercules,diterjunkan pada titik
yang
jauh dari area musuh,sekitar dua puluh kilometer.
Disana kita akan bergerilya dan menyusup dengan perlahan
Tanpa
banyak bicara lagi laksanakan.
SESEORANG BERTUGAS MENJADI PILOT.SEORANG LAGI
MEMBERI ABA-ABA BAHWA PESAWAT SUDAH DALAM KEADAAN SIAP.
SELURUH TENTARA MENAIKI PESAWAT.
3. DIKETINGGIAN 2000 KAKI DIATAS PERMUKAAN
LAUT
Komandan : (MENGELUARKAN PETA) Kita sekarang ada disini,area musuh
ada
disini. Kurang lebih lima menit lagi kalian akan diterjunkan pada
daerah ini. Ada pertanyaan. . . ya . . . kamu silahkan. . .
Serdadu Inem : ini komandan tadi saya lupa (MENGELUARKAN SEBUAH AMPLOP)
Komandan : Apa itu ?
Serdadu Inem : Ini, tadi saya lupa
menitipkan kepada bagian pengisi bahan bakar
(MALU-MALU) ini surat saya buat si Udin,pembokat saya. Saya
khawatir tidak dapat kembali hidup-hidup.
didalamnya sudah jelas
tentang tata cara memasak dan goreng tempe. Tolong ya
komandan. . .
Komandan : Sialan kamu, ada-ada saja. Sini !
Serdadu Inem : Terima kasih komandan. (MENYERAHKAN AMPLOP)
Komandan : Ada
lagi ?
Baik kalau begitu saya ucapkan selamat
bertugas.
(SEMUA MENCIUMI TANGAN KOMANDAN)
Pilot : Titik terjun dicapai.
KOMANDAN MEMBERI ABA-ABA, SEMUA
TENTARA TERJUN
4. DI
HUTAN,LOKASI 20 KILOMETER DARI AREA MUSUH
Komandan : Semua pasukan,cek
kehadiran (MENGABSEN SATU PERSATU)
Si Imut mana. . . .
Serdadu Jaenab : Tadi masih ada kok komandan.
Serdadu Iyem : Betul komandan. Tadi di
udara kami berpapasan kok.
Serdadu Leha : Saya tau komandan.
Komandan : Ya. . . cepat bicara.
Serdadu Leha : Anu komandan, tadi
ketika kami masih melayang-layang diudara
Saya melihat ia berkelahi dengan seekor
garuda, masalahnya Imut
takut ketinggian, jadi ia kencing.
Mungkin burung garuda itu suka
dengan urine komandan.
Komandan : Lalu ?
Serdadu Leha : Mampuslah dia.
Komandan : Innalillahi Wa
Innailaihirajiun. . . . .
Untuk menghormati Imut,mari kita semua
berdoa dan
mengheningkan cipta. Semoga rohnya tidak
nyasar ke neraka.
Mulai. . . . Selesai. . .
Komandan : Kita akan
langsung bergerak ketitik ini. Pasukan kita pecah
menjadi dua regu. Satu menyisir dan yang
satu pengintai,
bergerak !!!
5. PASUKAN
BERGERAK MAJU SAMBIL BERNYANYI.
6. MELEWATI
SUNGAI-SUNGAI, MERAYAP DILUMPUR DAN SEMAK BELUKAR
7. PADA
AREA MUSUH, SELURUH PASUKAN BERGERAK DENGAN HATI-HATI.
Serdadu Leha : Perjaka kepada
perawan. . . . ganti !
Serdadu Saroh : Perawan disini. . . masih suci. . . ganti
Serdadu Jaenab : (MENEROPONG) ada dua orang musuh komandan,
nampaknya
Lagi kencing
Komandan : Culik !!!
8. SESEORANG YANG DIPERINTAHKAN UNTUK
MENCULIK SEGERA BERGERAK
MENCULIK ORANG YANG DIMAKSUD DAN
MEMBAWANYA KEHADAPAN
KOMANDAN.
Serdadu Leha : Bila ingin tetap
hidup, bekerjasamalah dengan baik!!!
Komandan : Berapa jumlah
kalian ? berapa ? Hmmm. . . bagus. Leha catat
Jadi . . . . . siapa pimpinan kalian ? Siapa yang suruh
kalian
merdeka ? ayo jawab !!!
Serdadu Leha :
Orang Australia
itukah ? Orang Amerika itukah ? atau siapa ?
Jawab !! (MEMUKUL TAHANAN)
9. DALAM IMPROVISASI, TAWANAN KABUR.
PASUKAN TERKEJUT KARENA
MENDAPAT SERANGAN SECARA MENDADAK,
PASUKAN MENJADI PANIK
PERTEMPURAN TERJADI HINGGA PASUKAN
TERUS TERDESAK
Serdadu Jaenab : Mereka dimana-mana. . . .
Serdadu Leha : Kita akan mati.
Komandan sudah keok.
10. (dengan improvisasi) SELURUH ANGGOTA
PASUKAN DIBANTAI OLEH MUSUH.
(musuh dalam fantasi).
MAYAT BERGELIMPANGAN DIMANA-MANA,
INSPEKTUR MASUK BERSAMA
KEDUA AJUDAN, MEMAKAI KACA MATA
HITAM.
Inspektur : Para
penonton yang terhormat, demikianlah pertempuran ini
terjadi. Bila ada yang salah dari kami
mohon jangan diambil hati
(MAYAT YANG BERGELIMPANGAN BANGKIT,
BERSIAP)
Berikutnya kita akan terus berperang ke
daerah merah,
Laksanakan !!!
Semua : Maju tak
gentar, membela yang benar
Maju tak serentak, hak kita ditendang
Bergerak, …………..bergerak 2 X
Nasib memang nasib. . .
Mau apa toh memang begini
Jadi tentara memang gila kerjanya
Gila. . . memang gila . . .
Keluh dan protes tak ada kamusnya
Serdadu memang dicongak hidungnya
Jadi . . . jangan gila . . .
Bila tak mau
disebut. . . . . . .
Pasukannnnnnn. . . giiiiiilaaaaaaaa. . .
Sinopsis
:
Apakah
serdadu diciptakan untuk berperang ?
Benarkah
pertempuran diciptakan buat serdadu. . .?
Betulkah
serdadu = perang . . .?
Ataukah
perang = saling bunuh ?
Apakah
serdadu, pertempuran, perang, saling bunuh = kegilaan sebuah pasukan?
Ada pertanyaan?
Entahlah.
. . . . !!!!
PENAMPUNGAN
ZAMAN AKHIR
Karya : Andi Sahludin
. . . . . . tidak ada yang istimewa, semua ini memang sudah diatur. . .
saya hanya menjalankan apa yang sudah saya rencanakan. Tentu saja
saya harus kejam terhadap diri saya sendiri, mungkin karena saya sudah
terbiasa dengan kekejaman, tapi sebetulnya kami harus betul betul
mengucapkan terima kasih kepada kalian, kaum laki-laki. . . . . . . . . . . . .
. .
PARA TOKOH :
1. LAKI-LAKI
2. ASISTEN
3. PIMPINAN
4. NYONYA
5. SILUMAN
6. ORANG-ORANG
PENAMPUNGAN ZAMAN AKHIR
Andi sahludin
PANGGUNG
DIBAGI MENJADI DUA AREA
AREA 1, ADALAH
TEMPAT YANG LEBIH TINGGI, TERDAPAT SEBUAH LAYAR YANG BERFUNGSI
MENAMPILKAN GAMBAR-GAMBAR
DAN SILOHUET, JUGA BISA
DIGUNAKAN SEBAGAI SEBUAH RUANG, KAMAR
DAN SEBAGAINYA.
AREA 2, MENGGAMBARKAN
SUASANA PADA SEBUAH KLINIK, RUMAH SAKIT ATAU TEMPAT LAINNYA SEMACAM
PENAMPUNGAN.
DALAM SUASANA YANG MASIH GELAP LAGU-LAGU PERJUANGAN
DIPERDENGARKAN SECARA MEDLEY, DISAMBUNG PEMBACAAN TEKS PROKLAMASI, DIIRINGI
SORAK SORAY GEMPITA. LAYAR PUTIH MENAMPILKAN GAMBAR-GAMBAR KEHIDUPAN MANUSIA,
MULAI JALAN-JALAN, GEDUNG-GEDUNG BERTINGKAT, PERKEBUNAN, PERTANIAN, PETERNAKAN,
HINGGA PABRIK-PABRIK INDUSTRI YANG DISUSUL OLEH GAMBAR ATAU CUPLIKAN
BERITA-BERITA KRIMINAL
HINGGA LAYAR BERANGSUR GELAP.
( lampu pada area 2 menyala )
ORANG-ORANG TERBARING PADA TEMPATNYA MASING-MASING,
BERMACAM SELANG DENGAN ANEKA WARNA MENEMPEL PADA TUBUH, MULAI DARI
KEPALA,TANGAN HINGGA PERUT. SEMUANYA TERBARING KAKU, KADANG SESEKALI TERDENGAR
BUNYI NAPAS YANG BERAT. SEORANG LAKI-LAKI BERSAMA ORANG 1 KELUAR DARI BALIK
LAYAR, LAKI-LAKI ITU TERTAWA PUAS DAN MENGHELA NAPAS YANG MENGISYARATKAN BAHWA
IA LELAH, SAMBIL MERAPIKAN PAKAIANNYA SENDIRI IA BANTU MERAPIKAN PAKAIAN ORANG
1 YANG HANYA BERDIRI MEMATUNG. LAKI-LAKI ITUPUN MENGANTARKAN ORANG 1 MENUJU TEMPATNYA,MEMBARINGKANNYA DAN
MEMASANGKAN SELANG PADA KEPALA, TANGAN, DAN PERUT ORANG 1, SETELAH SELESAI IA
BERJALAN MENUJU MEJA KERJA DAN DUDUK DIKURSINYA, LALU DENGAN SANTAI MEMBACA
KORAN YANG TERLETAK DIATAS MEJA.
DIATAS MEJA TERDAPAT SETUMPUK DOKUMEN, BUKU DAN PERALATAN
KERJA LAINNYA, SEBUAH TELEPON TERLETAK PADA PINGGIR MEJA, DAN TERDAPAT SENJATA
API YANG TERGANTUNG DI DINDING.
Laki-laki : ( MEMBOLAK BALIK KORAN )
ponsel
buatan cina mulai mendapat tempat . . .hmmm
listrik industri ikuti
bahan bakar dunia . . .
( BICARA PADA
ORANG-ORANG )
beruntung tempat kita
punya kekebalan terhadap program pemadaman bergilir ( TERTAWA KECIL, LALU BARU SADAR KALAU
IA DILIHAT OLEH BANYAK PENONTON )
oh . . . maaf . . .
maaf, bapak-bapak, ibu-ibu, om-om,
tante-tante, para seniman, seniwati, baik yang senior maupun yang masih bau
kencur . . . selamat malam semuanya.
perkenalkan, nama saya,
abdul harahap simatupang gonggong
Anda boleh panggil saya
gonggong saja, saya adalah pengawas sekaligus pimpinan ditempat ini.
saya adalah pengawas
yang bertugas merekam semua perkembangan ditempat ini, lalu menjualnya. (
KEMBALI DUDUK ) yah . . . pada dasarnya
mereka semua adalah tumbal kemerdekaan, korban pada masing-masing kondisinya,
atau mungkin dikondisikan untuk menjadi korban, hingga menjadi korban kondisi.
Coba kita lihat kondisi korban ( MENCARI DATA PADA BUKU ) nah ini dia . . . ada yang disebabkan masalah ekonomi, ada yang
disebabkan oleh masalah kekerasan dalam rumah tangga, korupsi juga ada,
perselingkuhan, hiversex, narkoba, bla bla bla
( MASUK SEORANG ASISTEN, IA MEMBERI HORMAT PADA LAKI-LAKI
)
Laki-laki : ada apa . . . ?
Asisten : anu pak
Laki-laki
: anu apa ?
Asisten : itu pak
Laki-laki : dari tadi bicara tidak jelas, anu
. . . itu, apanya ?
Asisten : anu itu pak . . . hari ini ada
kunjungan dari pimpinan pusat.
Laki-laki : hah . . . kenapa kamu baru
bilang.
Asisten : ini sekarang kan saya sudah
bilang
Laki-laki : goblok . . . maksudku kenapa baru
hari ini kamu sampaikan kalau
pimpinan
akan kemari . . .
Asisten : kan itu pak
Laki-laki : kan itu apa ?
Asisten : anu pak
Laki-laki
: iya . . . apa !
Asisten : katanya inspeksi mendadak,
sekaligus membawa calon pembeli
Laki-laki
: ya sudah, jam berapa datangnya . . .
Asisten : anu pak . . .
Laki-laki
: jam berapa. . . jam berapa pimpinan pusat datang kemari ( JENGKEL )
Asisten
: beberapa menit lagi pak . . .
Laki-laki
: apa . . . binuhung karing . . . dasar bangang . . . beberapa menit lagi,
mati aku . . . ( MERAPIKAN MEJA ) kamu jangan
diam saja . . .
rapikan
mereka ( MENUNJUK PADA ORANG-ORANG )
( ASISTEN MERAPIKAN
KONDISI ORANG-ORANG, MULAI DARI LETAK DIPAN, SELANG INPUS YANG TIDAK PADA
TEMPATNYA DIKEMBALIKAN KE ASALNYA SAMPAI GIGI ORANG-ORANG DISIKAT SATU PERSATU )
Laki-laki : bagaimana,
sudah beres . . .
Asisten
: beres pak . . . mengkilat
Laki-laki
: apanya yang mengkilat
Asisten
: semuanya lah pokoknya siap dicoba
Laki-laki
: ya sudah, kalau begitu kamu jaga diruang depan kalau-kalau paimpinan
datang.
( ASISTEN MASIH DIAM ) apa lagi goblok . . sudah sana . . .
Asisten
: anu pak . . .
Laki-laki
: waduh mulai lagi ( JENGKEL ) anu apa !
Asisten
: itu pak
Laki-laki
: itu apa
Asisten
: ( MALU-MALU ) nanti saya boleh coba satu ya pak
Laki-laki
: oh itu . . . yang mana
Asisten
: ( MENUNJUK SALAH SATU DARI ORANG-ORANG ) yang itu pak
Laki-laki
: ya . . . ya nanti . . . gampang . . . kalau tidak terjual kamu boleh coba
Asisten
: terima kasih pak
Laki-laki
: iya . . iya . . . sudah sana tunggu pimpinan kalau-kalau dia datang
( ASISTEN MEMBERI
HORMAT LALU KELUAR )
Laki-laki : ada-ada saja, kerja belum selesai maunya
mcam-macam
( MENGAMBIL TOPI DAN MEMASANGNYA KE KEPALA )
Kalian semua dengarkan ( PADA ORANG-ORANG )
bersikap yang baik
jangan bikin kita
semua jadi malu, tersenyumlah pada calon pembeli,
paham ! ( ORANG2
MENGANGGUK ) coba semuanya tersenyum
( ORANG2 TERSENYUM ) bagus, bapak
absen dulu ya . . . rani,
ati, siti, munah, hapsah, wati, lala, popi,
juju, wawa . . . bagus bagus semua ada . . .
dan ingat sekali lagi semuanya harus
tersenyum oke.
( ASISTEN MASUK )
Asisten : pak . . . mereka datang
Laki-laki : ya sudah, persilakan masuk ( MERAPIKAN
PAKAIAN )
( ASISTEN KELUAR LALU MASUK LAGI BERSAMA PIMPINAN,
SILUMAN, DAN NYONYA )
Laki-laki
: selamat datang . . . selamat datang dipenampungan manusia
akhir zaman, bagaimana kabarnya pak (
MENYALAMI PIMPINAN )
Pimpinan
: baik . . . bagaimana kabar barang kita . . .
Laki-laki
: baik pak sangat sempurna
Pimpinan
: oh ya . . . perkenalkan ini Tuan Siluman, beliau adalah pimpinan
tertinggi
dari perusahaan penjual manusia akhir zaman, selain
itu
beliau juga adalah direktur dari perusahaan penyalur
berbagai macam penyakit seperti raja singa,
spilis, aids, hiv,
dan
banyak lagi yang lainnya.
Laki-laki : wah . . wah . . wah . . . luar biasa . . .
sungguh prestasi yang sulit untuk
ditandingi, ( MEMPERKENALKAN DIRI ) saya
abdul harahap simatupang gonggong.
Siluman : terima kasih pujiannya pak gonggong, boleh
saya panggil anda gonggong.
Laki-laki : tentu pak, apa yang tidak untuk orang
sehebat anda
Pimpinan : dan ini adalah Nyonya Raja Tega, beliau
adalah seorang pimpinan
dari kupu-kupu malam
corporation. Selain itu beliau adalah anggota
dewan kehormatan dari perkumpulan manusia
bejat sedunia, yang
sekarang ini sudah menyebar disemua benua,
termasuk pada benua
kita dimana kita berbangsa dan negara (
TERBATUK )
Nyonya : ah . . . anda terlalu berlebihan memuji
saya
Laki-laki : luar biasa, kalau boleh saya bertanya
bagaimana anda bisa sesukses sekarang.
Nyonya : tidak ada yang istimewa, semua ini memang
sudah diatur saya hanya
menjalankan apa yang sudah saya rencanakan,
tentu saja saya harus
kejam
terhadap diri saya sendiri, mungkin karena saya sudah biasa
dengan kekejaman, tapi mungkin kami harus
betul-betul berterima
kasih pada kalian kaum laki-laki.
Laki-lak : kenapa ?
Nyonya : yah tanpa kalian mungkin kami tidak akan
seperti ini, emansipasi,
kesetaraan gender, ah bukankah itu adalah
sama dengan kemerdekaan
tanpa batas . . . ( BERGAIRAH )
Siluman : dan itu berarti juga adalah tabrakan,
benturan, hantaman demi
hantaman yang akan selalu beradu tanpa henti,
kaum satu melawan
kaum
lainnya, perlombaan tanpa akhir
Pimpinan : ( BERTEPUK TANGAN ) baik baik . . . kita
sudahi dulu perkenalannya
mari
kita bicara bisnis . . .
Nyonya : no problem . . . ( MENGHENTIKAN GAIRAHNYA
)
Siluman : saya setuju ( MENGAMBIL ALAT RIAS DARI TAS
KEMUDIAN
SIBUK
MEMBEDAKI WAJAHNYA )
Pimpinan : nah kalau begitu, saya permisi dulu,
karena saya harus ambil kiriman
barang dari penjara, silakan berurusan dengan
tuan gonggong.
Laki-laki : terima kasih pak, ( KEPADA ASISTEN )
antarkan bapak pimpinan keluar
Pimpinan : permisi
( PIMPINAN KELUAR
DENGAN DIANTAR ASISTEN )
Laki-laki : nah tuan dan nyonya, langsung
kepermasalahan, disini kami punya
jutaan barang, tapi khusus untuk sampel kami
sediakan sepuluh jenis
( MENUNJUK PADA ORANG-ORANG ) anda
menginginkan yang
bagaimana ?
Nyonya : saya tidak terlalu pemilih, yang penting
barang saya sudah pernah
keluar masuk penjara, pakai narkoba, pernah
menderita penyakit
kelamin, depresi dan yang penting punya
mental baja, korban
pemerkosaan juga boleh . . .
Laki-laki : oh kalau soal yang terakhir itu, saya
yakin semua barang kami pernah
mengalaminya ( MENUNJUK SALAH SATU DARI
ORANG-ORANG )
nah
ini namanya . . . ( MENCARI DATA DIBUKU ) namanya siti, selain
sudah sering diblacklist oleh petugas karena
kasus narkoba, pernah
diperkosa orang satu RT, juga meraih platinum
trophy ketahanan
hubungan intim.
Nyonya : boleh juga
Laki-laki : nah yang ini namanya wawa, selain pernah
mengalami kekerasan dalam
rumah tangga yang begitu hebat, pernah juga
melakukan pembunuhan
berencana dan hanya dihukum lima belas tahun
penjara, dan itu baru
separuh dari sejarah hidupnya, yang lainnya (
MEMBOLAK-BALIK
HALAMAN
BUKU ) yah tidak jauh dari hal-hal yang menjijikkan dan
membuat muntah ( MAU MUNTAH TAPI DITAHAN )
Nyonya : saya ambil dia juga
Laki-laki : baik kalau begitu dua sudah terjual,
selanjutnya . . . ini namanya
munah,
sejak umur sebelas tahun sudah tidak perawan lagi, biasalah
akibat sering diluar rumah, sering kawin lari
di lima puluh negara
berbeda, wow . . . bisa lihat kondisinya
sekarang
Nyonya : brilian . . . saya akan ambil ketiganya,
tapi boleh saya lihat langsung
Laki-laki : boleh-boleh, siti, wawa, munah menghadap
( SITI, WAWA, DAN MUNAH
DATANG MENGHADAP LALU TERSENYUM )
Nyonya : ( MENGAMBIL KACA PEMBESAR DARI DALAM BH
NYA )
sangat
kotor ( MENELITI SATU PERSATU DENGAN KACA
PEMBESAR ) luar biasa, banyak sekali terdapat
benih-benih neraka
saya
ambil ketiganya, berapa . . . ?
Laki-laki : untuk nyonya akan saya kasih harga spesial
( MEMPERLIHATKAN DAFTAR HARGA )
Nyonya : mahal sekali, apa bapak tidak salah . . .
Laki-laki : nyonya jangan terkejut, perusahaan kami
mengacu pada harga minyak dunia
Nyonya
: apa tidak ada yang disubsidi
Laki-laki : ah nyonya ini bagaimana, mana ada barang
yang beginian pakai subsidi . . .
( TERTAWA SENDIRI )
Nyonya : baiklah kalau begitu, ( MENULIS PADA
SELEMBAR CEK LALU MEMBERIKAN
KEPADA LAKI-LAKI ) nih . . . barangnya aku
bawa sekarang saja
Laki-laki : silakan, semakin cepat semakin bagus. (
MENERIMA CEK, MENGAMBIL
STEMPEL LALU MEMBERI CAP PADA KEPALA ORANG
YANG DIJUAL )
Terjual, terjual dan terjual. Nah selesai
sudah, silakan dibawa
( NYONYA KELUAR DENGAN
MEMBAWA KETIGA ORANG YANG TERJUAL )
Siluman : selanjutnya . . .
Laki-laki : nah kalau yang ini namanya . . .
Siluman : tidak usah repot-repot menjelaskannya,
saya ingin memeriksanya sendiri,
sekaligus semuanya, saya ingin mencobanya
sendiri.
Laki-laki : mencobanya ?
Siluman : ya . . .
Laki-laki : semuanya ?
Siluman : betul, kenapa, apa dilarang !
Laki-laki : oh
tidak tidak, malah saya sangat setuju sekali
Siluman : bagus, dimana ruang percobaannya
Laki-laki : disana pak ! ( MENUNJUK AREA 1 ) silakan.
Siluman : baik, ayo bawa semuanya
( SILUMAN BERSAMA
ORANG-ORANG MENUJU PADA BELAKANG LAYAR PUTIH
YANG TELAH BERUBAH
MENJADI KAMAR PERCOBAAN, DALAM SILOHUET
TERLIHAT PERTEMPURAN
TANGAN YANG SALING MENGGENGGAM, SALING MENABRAK )
Laki-laki : ( MENGHITUNG HITUNG JUMLAH UANG DENGAN
KALKULATOR,
LALU MENCATAT )
( PADA BAGIAN LAYAR
GERAK TANGAN DARI ORANG-ORANG SEMAKIN CEPAT DAN TIDAK BERATURAN, DITUTUP OLEH
TERIAKAN SILUMAN )
Laki-laki : wuuuaaah luar biasa . . .
Siluman : sangat sempurna, ( KELUAR DARI RUANG
PERCOBAAN, BERLARI
KEGIRANGAN ) benar-benar kotor . . . sangat
kotor, sangat cocok dengan
kebutuhan kami . . . sebentar ( MENGAMBIL HP
DARI DALAM TAS )
halo . . . halo . . . ( MENUNGGU SAMPAI TERSAMBUNG )
( ORANG-ORANG KELUAR
DARI RUANG PERCOBAAN, LALU BERDIRI DIDEPAN TEMPATNYA
MASING-MASING )
Siluman : halo . . . halo ( GIRANG ) mariaban disitu
ya . . . ini aku siluman . . .
ya barangnya sudah dapat, sangat cocok,
sangat merusak, langsung kita
ambil ya . . . ah nggak usah pakai pertemuan
lagi, nggak usah pakai rapat
rapatan, saya yakin semua pemegang saham
akan setuju, sumpah demi
burung saya, sumpah . . . sangat cocok. Iya
barusan saya cek dan saya coba.
Oke !! ( MEMATIKAN SAMBUNGAN )
Laki-laki : bagaimana ?
Siluman : berapa semuanya . . .
Laki-laki : semuanya . . . wuaahh, sebentar (
MENGHITUNG DENGAN KALKULATOR
LALU MEMPERLIHATKAN PADA SILUMAN )
Siluman : cuma segitu, ( MENGAMBIL SETUMPUK UANG DAN
MENGHAMBURKAN
KELANTAI) hitung saja pasti lebih. Baik,
barangnya kubawa dan bisnis
selesai ( MAU MEMBAWA ORANG-ORANG )
Laki-laki : sebentar ( MENGAMBIL CAP STEMPEL DAN
MENCAP KEPALA ORANG )
silakan dan terima kasih.
( SILUMAN KELUAR
MEMBAWA ORANG-ORANG, LAKI-LAKI TERTAWA GEMBIRA,
IA MERAPIKAN UANG DAN
MELIHAT DISEKITARNYA, LALU MEMASUKKAN SEBAGIAN
UANG KEDALAM CELANA
DALAM )
Laki-laki : dimana lagi tempat paling aman kalau bukan
disini . . . ( MEMASUKKAN SEBAGIAN
UANG KEDALAM LACI )
( PIMPINAN MASUK,
DIBELAKANGNYA ASISTEN MENGIRINGI DENGAN MEMBAWA GEROBAK YANG DIPENUHI
ORANG-ORANG BARU YANG AKAN DIJUAL )
Pimpinan : taruh disitu.
Asisten : ( MENUMPAHKAN SELURUH ISI GEROBAK YANG
BERISI ORANG2 )
Laki-laki : wah . . . wah . . . wahhh, cepat sekali
bapak dapat stok baru
Pimpinan : bagaimana hasil bisnis tadi
Laki-laki : lancar pak . . . lancar ( MENGAMBIL
SELEMBAR CEK DAN UANG DARI
DALAM LACI, LALU MENYERAHKANNYA PADA
PIMPINAN )
Pimpinan : ( MENGIRA NGIRA JUMLAH UANG ) apa perlu
saya hitung . . .
Laki-laki : silahkan pak, tapi apa bapak tidak capek,
lagi pula saya inikan bawahan
bapak yang paling setia dan jujur
Pimpinan : baik saya percaya . . . ( MEMASUKKAN
SEBAGIAN UANG KEDALAM
CAWAT, LALU MEMBERIKAN SELEMBAR UANG PADA
LAKI-LAKI
DAN ASISTEN ) nih ambil, ingat jangan banyak
omong, paham !!
Laki-laki : paham pak
Asisten : paham pak
Pimpinan : nah selesai sudah urusan saya disini,
selain inspeksi mendadak juga bisnis
mendadak, mumpung jadi orang pusat. Oke . .
. sampai jumpa.
( PIMPINAN KELUAR )
Laki-laki : hari yang indah, sangat indah ( BERSIUL )
rapikan barang-barang itu
cepat, ia harus kita cuci dulu.
Asisten : baik pak
( LAKI-LAKI SIBUK
MENCATAT BARANG-BARANG YANG TERJUAL )
Laki-laki : rani . . . terjual, ati . . . terjual . .
. semua terjual
( ASISTEN MEMBAWA
ORANG-ORANG DAN MEMASANG TALI SELANG )
Laki-laki : ( MENGAMBIL SELEMBAR KERTAS DARI DALAM
GEROBAK )
ini datanya, yeyen, novi, susi ( AGAK KAGET
) susi . . . lari dari rumah
pada juli dua ribu satu, . . . yang mana yang
namanya susi . . .
Asisten : ( MEMERIKSA NAMA PADA BAGIAN LEHER
ORANG-ORANG ) yang ini pak !
Laki-laki : coba bawa kemari
( ASISTEN MEMBAWA ORANG
YANG DIMAKSUD KEHADAPAN LAKI-LAKI )
Laki-laki : siapa nama kamu ?
Orang 1 : susi
Laki-laki : ( TERUS MENGAMATI )
( ORANG YANG DIMAKSUD
TERLIHAT AGAK GUGUP, WAJAHNYA TERLINDUNG OLEH RAMBUTNYA
YANG TERURAI KEDEPAN )
Laki-laki : ( MEMBUKA RAMBUT ORANG 1, HINGGA TERLIHAT
JELAS
WAJAHNYA ) astaga . . . bukankah kamu susi
anakku . . . astaga mati aku,
kenapa bisa begini, kenapa kamu bisa ada
disini . . . ( LEMAS )
Orang 1 : mungkin karena dosa turunan pak, dan . . .
( KEMBALI DIAM )
Laki-laki : apa ! dosa turunan . . . bukan, tapi
karena kemerdekaan, emansipasi, atau
apa sajalah . . . tapi sudahlah ( MEMELUK
ANAKNYA ) kamu jangan
khawatir, bapak akan membebaskanmu dan
membawamu pulang kerumah.
Laki-laki : bapak akan membawamu pulang kerumah, kita
pulang nak . . .
( MERAPIKAN KEADAAN ORANG 1 )
Asisten : anu pak
Laki-laki : anu apa . . .
Asisten : tidak segampang itu . .
Laki-laki : apanya yang tidak gampang, saya tinggal
membelinya, membayar lalu saya
bisa membawanya pulang . . .
Asisten : itu pak
Laki-laki : itu apa ?
Asisten : saya tidak setuju . . .
Laki-laki : memangnya kenapa kalau kamu tidak setuju,
kamu pikir kamu siapa
Asisten : saya juga pegawai pada perusahaan ini,
saya juga punya tanggung jawab,
meskipun pangkat saya satu tingkat dibawah
bapak, saya merasa berhak
untuk mengambil tindakan bila . . .
Laki-laki : bila apa
Asisten : bila bapak mau menggelapkan barang milik
perusahaan, resminya mencuri . .
Laki-laki : ah jangan sok moralis kamu, dia ini anakku
. . . tidakkah kamu bisa
mengerti . . .
Asisten : anu pak
Laki-laki : anu apa . . .
Asisten : bagaimana dengan mereka ( MENUNJUK
ORANG-ORANG YANG LAIN )
Laki-laki : saya tidak ada urusan dengan mereka
Asisten : kalau begitu bapak telah mengkebiri
mereka, mereka bisa menggugat
Laki-laki : apanya yang dikebiri, mana yang mau
menggugat, apa kamu buta, lihat
dengan kedua biji matamu, mereka itu cuma
barang !!!
Asisten : termasuk barang yang akan bapak curi . . .
kalau begitu sekali lagi, demi
persamaan hak antar barang, rencana bapak
untuk mencuri barang milik
perusahaan saya tolak mentah-mentah.
Laki-laki : ah kamu ini sok jujur ( MENGAMBIL SETUMPUK
UANG DARI DALAM
CAWAT LALU MELEMPARKAN KEWAJAH ASISTEN )
tuh . . . ambil, cukup untuk bikin usaha
baru, bagaimana ?
Asisten : ( MEMUNGUTI UANG LALU MEMBUANGNYA KEMBALI
)
bagaimana dengan mereka pak ( MENUNJUK
ORANG-ORANG )
Laki-laki : apa lagi ?
Asisten : saya tidak bisa membiarkan ketidakadilan
berlaku kepada mereka
Laki-laki : lho . . . bukankah perusahaan kita juga
adalah penyalur resmi ketidakadilan
Asisten : itu lain persoalannya pak . . .
Laki-laki : kalau begitu saya juga akan membeli mereka
semua . . . ( MENGAMBIL
BEBERAPA TUMPUK UANG DARI DALAM LACI, LALU
MELEMPAR
KEPADA ASISTEN ) bagaimana, cukup . . . nah
sekarang mereka semua
milikku . . . ( MELEPASKAN SELANG DARI
ORANG-ORANG )
Asisten : ( MERABA-RABA UANG, MENGIRA-NGIRA
JUMLAHNYA )
Laki-laki : ( BERMAKSUD MEMBAWA KELUAR SEMUA
ORANG-ORANG )
nah kita pulang nak, dan kalian semua ikut
bapak, ayo . . .
Asisten : ( MENGHALANGI ) tidak bisa pak . . .
Laki-laki : apa . . . binuhung karing, apa uang sebanyak
itu masih belum cukup !
Asisten : anu pak
Laki-laki : anu, anu, anu, anu apa lagi . . . !
Asisten : anu pak, kita terikat sumpah perusahaan .
. .
Laki-laki : ( MARAH ) ah persetan dengan sumpah
perusahaan ( MEMBAWA ORANG-ORANG )
( ASISTEN DENGAN CEPAT
MENGAMBIL SENJATA API YANG TERGANTUNG
DIBELAKANG MEJA )
Asisten : berhenti pak, kalau tidak bapak bisa
kehilangan nyawa ( MENGANCAM DENGAN SENJATA )
Laki-laki : silahkan, kamu tidak akan berani, saya
tidak takut dengan ancaman
Asisten : saya tidak mengancam, saya
sungguh-sungguh, bapak sekarang sedang
tertangkap basah melakukan pencurian, jadi
saya diperbolehkan mengambil
tindakan yang dianggap perlu, termasuk
membunuh bapak.
Laki-laki : apa ?
Asisten :
hukum dinegara kita memperbolehkannya . . .
Laki-laki : terserah . . . ( TIDAK MEMPERDULIKAN
ASISTEN DAN TERUS
MEMBAWA ORANG-ORANG )
( ASISTEN MENEMBAK
LAKI-LAKI TEPAT DIKEPALA, ORANG-ORANG BERHAMBURAN, ORANG 1 TERIAK HISTERIS,
LAKI-LAKI MENGGELEPAR LALU MATI )
Orang 1
: bapak . . . bapak . . . bangun pak . . . ( MENANGIS LALU DIAM
MEMATUNG
LAGI )
Asisten : sudah ayo bangun ( KEPADA ORANG 1 ) bapakmu
sudah lama mati, dia
bukan bapakmu . . . dia itu maling yang coba
mencurimu dari perusahaan,
ayo
semua kembali, kalian harus dicuci dulu.
( ASISTEN MEMBAWA
ORANG-ORANG PADA TEMPATNYA MASING-MASING, MEMASANG SELANG, LALU MENYERET MAYAT
LAKI-LAKI KELUAR DAN MASUK LAGI. IA MENGUMPULKAN UANG YANG BERHAMBURAN LALU
MEMASUKKANNYA KEDALAM LACI )
Asisten : ( MENELPON SESEORANG ) pak . . . telah
terjadi pencurian pada
perusahaan, tetapi saya sudah mengambil
tindakan yang dianggap perlu,
sekarang saya adalah pimpinan di cabang ini,
terima kasih pak . . .
nah selesai sudah, dengan begini
keseimbangan akan terus bergoyang . . .
tidak perduli siapa yang lebih dominan, yang
penting semuanya sudah
merasa sebagai manusia merdeka . . . manusia
akhir zaman yang merdeka . .
( TELEPON BERBUNYI, ASISTEN SEGERA
MENGANGKATNYA )
halo dengan perusahaan penampungan manusia
akhir zaman . . . oh iya pak . .
siap pak . . . oh kiriman segera tiba ya pak
. . . anu pak . . . itu pak . . . saya
minta kenaikan gaji . . . pangkat saya sekarangkan
pimpinan disini . . .
( TERTAWA ) terima kasih pak . . . terima
kasih . . . ( MENUTUP TELEPON )
Suara : kiriman datang . . .
Asisten : langsung bawa masuk.
TIBA-TIBA CAHAYA JADI
BERUBAH, KADANG REDUP KADANG TERANG, ASISTEN MENJADI KEBINGUNGAN, ORANG-ORANG
JADI PANIK, DITENGAH SUASANA KEPANIKAN MASUK ORANG-ORANG YANG SUDAH TERJUAL
MEMBAWA GEROBAK YANG DIATASNYA BERISI BARANG YANG SUDAH SIAP DIJUAL, YAITU
SILUMAN, NYONYA DAN PIMPINAN. SEMUA ORANG-ORANG TERTAWA PUAS, MENUMPAHKAN SILUMAN,
NYONYA DAN PIMPINAN KELANTAI.
SUASANA MENJADI
PERTUNJUKKAN TAWA MANUSIA PALING MENJIJIKKAN YANG PERNAH ADA. HANYA SILUMAN,
NYONYA DAN PIMPINAN YANG TIDAK TERTAWA, MEREKA HANYA DIAM BAK SEORANG PESAKITAN
YANG BARU DIADILI. LALU TAWA SEMAKIN MEMBAHANA, SEMAKIN MEMUNCAK, SEMAKIN
MELEDAK HINGGA AKHIRNYA BERANGSUR HILANG, LAMPU SEMAKIN REDUP DAN AKHIRNYA
KEGELAPAN DATANG.
LAYAR PUTIH MENYALA,
MENAMPILKAN SUASANA KEKACAUAN DUNIA, RUNTUHNYA PERADABAN, LALU KEMBALI PADAM.
- PERTUNJUKAN SELESAI -
BANJARBARU – MARTAPURA
24 Juli 2008
Untuk yang ikhlas dan
terjajah
ANDI SAHLUDIN
izin pementasan
ditangan penulis
CATATAN :
BUNGLON
KARYA : ANTON V. CHEKOV
ADAPTASI
DAN SKENARIO : ANDI SAHLUDIN
SANGGAR AR-RUMI
STAI
DARUSSALAM MARTAPURA
2011
BUNGLON
Karya :
Anton V. Chekov
Adaptasi dan Skenario Oleh : Andi
Sahludin
Dramatic Personaliti :
1.
Abulung
[anspektur satu polisi].
2.
Amat
Suasa [tukang parti emas]
3.
Miftah
Girik
4.
Biuku
5.
Intel
6.
Narator
7.
Naratis
SETTING BEBAS
[DISESUAIKAN DENGAN SELERA DAN KEBUTUHAN GARAPAN].
INTRUDOKSI /
PEMBUKAAN
FADE IN [LAMPU
MENYALA]
TOKOH-TOKOH SECARA
BERIRINGAN DENGAN GERAK RITMIS MENUJU TEMPAT-TEMPAT TERTENTU, KEMUDIAN
MENGUMPUL HINGGA AKHIRNYA MEMECAH MEMBENTUK SUATU SIMBOL PADA SUATU TEMPAT,
Naratis : [Keluar dari kelompok]. Abulung
namanya, seorang polisi inspektur berpangkat satu, tegas dan agak pemarah.
ABULUNG KELUAR
DARI KELOMPOK, MENUJU TEMPAT TERTENTU, BERGAYA MILITER SAMBIL MERAPIKAN PAKAIAN
DAN TANDA PANGKATNYA.
Narator : IPTU
Abulung berjalan melintasi pasar dengan jaket bulunya yang baru dibelakangnya,
menyusul seorang intel berambut keriting sekeriting bulu jagung, membawa sebuah
bakul[1]
yang berisi barang hasil razia.
Naratis : Suasana sunyi. Senyap. Tidak
seorang pun terlihat. Pintu di ruko-ruko dan warung-warung minuman terbuka. Semua
menatap bumi Tuhan dengan murung. Seperti moncong-moncong lapar. Bubuhan mintasu[2] tidak
nampak batang hidungnya.
Narator : Tiba-tiba, terdengar pekik
seseorang!
Amat
Suasa : Eh… Kamu gigit, jahanam?
Narator : Abulung heran mendengar pekikan
itu.
Amat
Suasa : Ya, jangan sampai lolos, Dangsanak![3] Kali
ini tidak boleh menggigit! Tangkap! A… a!
TERDENGAR
LENGKING SEEKOR ANJING
Naratis : Abulung menoleh. Lalu tampak olehnya
seekor anjing. Melompat-lompat berlari dengan ketiga kakinya.
SEEKOR
ANJING BERLARI DISUSUL SEORANG LELAKI BERKEMEJA KATUN BERACI DAN BEROMPI
Narator : Seorang lelaki menyusul anjing
itu. Ia berlari kencang. Dan dikarenakan terlalu bersemangatnya, ia jatuh
tertelungkup.
LELAKI
MENANGKAP DUA KAKI BELAKANG ANJING
Naratis : Ia menangkap dua kaki anjing
itu. Kemudian terdengar sebuah seruan.
Amat
Suasa : [menyeru] Jangan dilepas!
DARI
WARUNG BERMUNCULAN TAMPANG-TAMPANG MENGANTUK
Narator : Wajah-wajah lesu bermunculan.
Wajah-wajah
mengantuk, melongok.
Dan tak lama terkumpulan
banyak orang.
Seolah-olah baru
muncul dari dalam tanah.
Intel : Tidak tahu aturan! Tidak
tahu adat! Dasar udik![4]
Narator : Abulung mendekati kerumunan itu.
Matanya mengawasi.
SESEORANG
BERDIRI LALU MENGACUNGKAN TANGAN
Narator : Seseorang dengan rompi berwarna
terang, berdiri.
Lalu ia mengacungkan
tangan kanan.
Memperlihatkan
jarinya yang berdarah kepada orang-orang.
Naratis : Di wajahnya yang memang sudah
dikenal banyak orang, seolah tertrulis
Amat
suasa : Awas! Kukuliti kamu, binuhung karing [5]!
Narator : Matanya basah, jelas basah oleh
kesedihan, basah oleh kengerian.
Koor : Ya, situkang pandir jatuh
pasrah ke tanah.
Seperti pilanduk
bermoncong luncup.
Punggungnya
berbelang kuning.
Ya,
Basah, matanya basah
Benar-Benar Basah
Basah oleh kepedihan
Basah oleh
kengerian.
Narator : Abulung masuk ketengah kerumunan.
Abulung : Ada apa ini?
Kenapa disini?
Kenapa jari kamu itu? Siapa tadi yang berteriak?
Amat
Suasa : Begini Komandan… [batuk].
Narator : Sambil batuk ketinjunya, amat
suasa bercerita.
Amat
Suasa : Saya lagi jalan, dan tidak
menyentuh siapapun. Sedang barusan soal kayu bakar dengan Miftah Girik. Tiba-tiba,
sisial ini! [kepada anjing] menggigit jari hantu saya. Maaf, [agak angkuh]
Saya ini kan buruh…
hmmmm… pekerjaan saya remeh, barangkali dengan jari seperti ini, seminggu saya
tidak bisa kerja… memang benar tidak ada dalam undang-undang, Yang Mulia…
Narator : Ia bicara meyakinkan Abulung
sang polisi.
Amat
Suasa : Bahwa binatang mesti… mmm,
begini saja yang mulia, bila semua Anjing menggigit, lebih baik tidak ada
anjing di dunia.
Naratis : Abulung berfikir sebentar lalu
menjawab.
Abulung : Hmm!... Baik… Baiklah![batuk]
Narator : Abulung terbatuk-batuk
Alisnya
bergerak-gerak
Lalu kembali bicara.
Abulung : Anjing
siapa ini? Tidak akan saya biarkan disini. Biar saya contohkan kalian bagaimana cara melepaskan anjing. Sudah
waktunya saya minta perhatian kalian yang tidak mau tunduk pada perturan! Bila
si bangsat ini sudah dihukum, baru tahu dia apa artinya anjing dan binatang lain
yang berkeliaran. Awas, ya! Cari tahu ini anjing siapa?
Narator : Ujar Inspektur satu Abulung
berbicara kepada Agen Polisi.
Abulung : Dan
bikin perbal segera. Anjing ini mesti dibikin lenyap, segera! Barangkali ia
gila. sumber rabies, anjing siapa ini?
Naratis : Dengan marah IPTU Abulung
kembali bertanya.
Seseorang : Mungkin anjing Jendral Timpakul yang
mulia!
Koor : Jendral Timpakul?
Abulung : Hmmmm…
Naratis : Lagi-lagi Abulung
terheran-heran.
Abulung : Coba lepaskan jaket bulu saya ini,
harinya humap,[6]
saya kira akan turun hujan.
Satu hal yang tidak
saya mengerti, bagaimana bisa ia menggigit kamu?
Narator : Ujar Abulung kepada Mat Suasa.
Lalu kembali bicara.
Abulung : Memangnya sampai jari?
Ia kan kecil, sedangkan
kamu bukan main Raksasa! Luka di jari itu kamu buat-buat saja barangkali, pakai
paku, lalu dapat akal, kamu mau memeras. Betul tidak?
Kamu kan orang
terknal!
Ya, saya kenal kamu,
setan!
Koor : Ya setan!
Narator : Amat suasa, Terdesak kaget.
Amat
Suasa : Dia, Komandan. Bermaksud memasang
papiros kemulut anjing untuk dagelan, dan anjing itu, memang tidak bodoh.
Koor : Ya, Anjing itu memang tidak
bodoh, keterlaluan. Orang yang keterlaluan memang.
Amat
Suasa : Yang Mulia…
Yang mulia, ini tuan
yang mulia, siapa yang bohong dan siapa yang benar seperti didepan tuhan, bila
saya bohong, biar hakim yang jadi wasit. Ada tertulis di Undang-Undang,
sekarang semuanya sama. Saudara, saya sendiri Anggota DENPOM Bila mau tahu. Jadi Jangan banyak omong.
Intel : Bukan, ini bukan Anjing
Jendral!
Narator : Ujar Intel sambil berpikir.
INTEL : Punya Jendral tidak ada yang
seperti ini, lebih banyak yang berbulu panjang.
Abulung : Kamu tahu betul?
INTEL : Betul, Yang Mulia…
Abulung : Saya pun tahu anjing jendral
mahal-mahal, Ras, jenis dan keturunan. Sedangkan yang ini… Bah! Bungul pada Kalum,[11]kada babulu,[12]lungui,[13]kada bamuha,[14]alias
muha kayu,[15]…,
Culas baikungan![16]
Anjing jenis ini
ditangkap?
Dimana akal sehat
kalian?
Di Madinah, atau di
Makkah, orang disana kalau bertemu dengan anjing semacam ini, beeeh…
undang-undang sudah tidak akan dipakai lagi, yang jelas pasti langsung ramuk,[17]
dan tak punya nyawa lagi, alias Game Over.[18]
[kepada Amat Suasa]
Hey… Mat, tangan sudah berdarah-darah, maka rugilah kau kalau sampai mau
mengalah, Sikat! unting[19]!
Selamat tinggal.
Narator : Intel Polisi sejenak menggebu-gebu,
memprovokasi.
Intel : Tapi beberapa waktu yang
lalu, dipekarangan rumah Jendral saya pernah lihat yang seperti ini.
Koor : Ya, Mungkin saja,
Mungkin saja, Ya.
Dengan sendirinya,
Punya jendral.
Intel : Hmmm, pasangkan jaket
buluku, rasanya angin membuatku menggigil.
Antar anjing itu ke
Jendral, lalu tanyakan disana. Katakan, Aku yang menemukan dan mengirimkan. Dan
bilang jangan lagi sampai terlepas itu anjing ke jalanan.
Koor : Ya, Bilang jangan lagi.
Jangan lagi.
Bilang jangan lagi anjing
itu lepas kejalanan.
Ya.
Abulung : Mungkin saja itu adalah anjing
yang mahal, bayangkan andai kata seekor babi hutan menancapkan taringnya
kemulut anjing ini, Wuuaaah… hancur leburlah semuanya. Rusak acara!
Koor : Ya, Rusak acara!
Walau sebentar, tapi
rusaklah acara.
Abulung : Astaga… lenturlah sedikit. Anjing
itukan juga ciptaan tuhan Yang Maha Kuasa. Sahabat manusia. Mesralah kepada
sesama ciptaan-Nya. [TIBA-TIBA SEPERTI MARAH] Hey, Mat Suasa! Goblok! Turunkan
tanganmu! Tak ada gunanya kau acungkan jari hantumu itu. Kau sendiri yang cari
penyakit.
[MENEBARKAN SENYUM,
KEMUDIAN MENATAP SESUATU DIKEJAUHAN]
Narator : Abulung tersenyum, gigi putihnya
yang licik nampak berderet rapi, mengkilap.
Abulung : Naaah… tuh, koki Jendral lewat.
Mari kita cari tahu.
Biuku…! Eey… Biuku!
Ya… ya. Sini!
Kemari… kemarilah, sayang. Lihat Anjing ini,
Apa milik kalian?
Biuku : Bahapal![20] Kami
tak pernah punya yang kampung macam ini.
Abulung : Nah. Cukup. Tak perlu panjang
lebar lagi. Anjing ini liar. Tinggal musnahkan, habis perkara.
Koor : Ya, tak ada guna banyak tanya.
Tak ada guna banyak
omong.
Liar berarti liar.
Liar adalah kacau.
Liar adalah penyakit
ketertiban.
Abulung : Musnahkan! Habis perkara.
Koor : Musnahkan.
Musnahkan.
Musnahkan.
Biuku : Oh, ya! Seingatku, ini
anjingnya adik Jendral yang belum lama datang.
Selera Jendral tidak
yang kampung macam ini.
Adiknya pengg…
Abulung : Ooo… Jadi, adik Jendral datang?
Udin Burut?
Naratis : Abulung bertanya. Wajahnya
tersenyum manis. Penuh perasaan. Kemudian kembali bicara.
Abulung : Ya… Tuhaaan… kenapa saya tidak
tahu! Bertamu ya?
Biuku : Berta…
Abulung : Ay… ay… ay… Dandaman wan dangsanak tuha pinanya?[21]
Kenapa saya tidak
tahu ya?
Jadi yang cantik dan
lucu ini, anjingnya?
Saya senang. Saya
bahagia.
Narator : Abulung bergembira, Berbeda 190
derajat dari sikapnya di awal mula.
Koor : Ya.
Bila Abulung
gembira.
Kami juga gembira.
Asal Bapak suka.
Maka semua suka.
Abulung : Nah… Ambillah!
Memang tangguh anjing
ini, Juga cepat larinya…
Hap… Guk… Guk…
Ningining-ngining…
Sungguh… Jari dia
itu,
Hahahahaha…
Narator : Lagi-lagi, Abulung
memperlihatkan deretan gigi putihnya yang licik, dalam tertawa.
Abulung : Hahahahaha….
Nah kenapa gemetar...
up, rrrrgh… up …
rrrgh… eeee! Marah…, si bangsat! Uh, si jambul. Jambul yang lucu dan cantik.
Biuku : Ayo… Jambul! Hop… Hop!
Naratis : Biuku memanggil anjing itu,
berjalan bersama, lalu meninggalkan gudang.
Koor : Naaaah… [kepada Mat Suasa]
Bagaimana sekarang?
Amat
Suasa : Jariku…?
Koor : Ya, Jarinya.
Yang sudah
berdarah-darah.
Bagaimana.
Amat
Suasa : Ya, bagaimana, lukanya saja
belum kering
Abulung : Apanya?
Luka apa? Darah apa?
Mau saya tangkap
kamu?
Narator : Abulung mengancam, membentak Amat
Suasa.
Lalu merapatkan
jaket bulunya yang baru dan berjalan menuju pasar.
Koor : Ya.
Berjalanlah dia.
Meninggalkan marahnya
yang belum mereda.
Tapi tak lama.
Rupanya marah
menjadi ramah.
Maka, tinggal
kenanganlah kisah si darah.
Amat
Suasa : Ya,
Lukaku, darahku.
Tinggalah kenangan.
Koor : Ya.
Dan dia teruslah
melangkah menuju pasar itu
Antasan
Kecil Timur Dalam,
Diskenariokan
untuk keperluan lomba Pagelaran Sastra pada Aruh Sastra VIII Kal-Sel 2011
15
Agustus 2011
Andi
Sahludin
Diselingi
tawa dan canda, Adingku Hadani
sedangkan bagian bawahnya
berbrntuk segi empat yang ukurannya lebih kecil dari ukuran bagian mulutnya
[2]Bubuhan
Mintasu : Sebutan untuk
orang yang meminta-minta di daerah Kelampaian, Martapura Kab. Banjar Kalsel.
[3]Dangsanak : Saudara
[4]Dasar
Udik : Dasar
orang desa/kampungan, kurang tahu sopan santun, kaku, canggung tingkah
lakunya,
bodoh.
[8]Picak : Buta
Sebelah
[9]Kaurkah : Rabun, tidak
melihat dengan jelaskah.
[10]Karamput : Dusta
[11]Bungul
pada kalum : Lebih bodoh
daripada binatang.
[12]Kada
babulu : Tidak
berbulu.
[14]Kada
bamuha : Tidak
berwajah.
[15]Muha
Kayu : Sindiran
yang berarti tidak beradab, tidak tahu malu.
[16]Culas
baikungan : Bersengatan Curang
[17]Ramuk
: Remuk,
hancur luluh, hancur jadi kecil berkeping-keping.
[18]Game
Over : Mati
[19]Unting
: Bidik
[20]Bahapal : Sembarangan
[21] Dandaman wan dangsanak tuha pinanya : kangen dengan saudara tua rupanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar